Selat Hormuz Dibuka, Pasar Minyak Global Masih Dibayangi Krisis Pasokan

PasangMata.id -


Dibukanya kembali Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Meski harga minyak sempat turun tajam, sejumlah analis menilai pasar masih menghadapi risiko kenaikan harga akibat cadangan minyak global yang terus menipis.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan pasar saat ini terlalu cepat menganggap krisis telah usai. Padahal, menurutnya, proses pemulihan distribusi minyak membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Semua orang berpikir masalah ini sudah selesai. Padahal masih ada tantangan logistik besar untuk kembali ke kondisi semula," ujar Croft, seperti dikutip dari CNN, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz hanyalah langkah awal. Jalur pelayaran masih harus dipastikan aman, kapal tanker perlu kembali beroperasi secara normal, dan produksi minyak harus ditingkatkan sebelum pasokan global benar-benar pulih.

Croft memperkirakan proses normalisasi tersebut dapat memakan waktu hingga beberapa bulan.

"Pasar sudah melompat tujuh langkah lebih jauh dari kondisi yang sebenarnya," katanya.

Cadangan Minyak Dunia Terus Menyusut

Selama hampir empat bulan konflik berlangsung, pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah mengalami gangguan yang cukup besar.

Berdasarkan data Kpler, sekitar 1,15 miliar barel minyak hilang dari pasar global selama periode konflik.

Kondisi tersebut menyebabkan cadangan minyak dunia terus terkuras. Dalam beberapa bulan terakhir, stok minyak global dilaporkan berkurang sekitar 190 juta barel, sementara cadangan strategis negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berada pada level terendah sejak 1990.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent yang sempat melonjak hingga US$126,41 per barel saat konflik memuncak kini turun kembali ke bawah US$80 per barel setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, sejumlah pelaku pasar menilai penurunan harga tersebut berlangsung terlalu cepat jika dibandingkan dengan kondisi fundamental pasokan yang masih rapuh.

Risiko Kenaikan Harga Masih Ada

Analis Kpler, Matt Smith, memperkirakan harga energi masih berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan karena pasar masih bergantung pada cadangan minyak yang terus menurun.

Menurutnya, meskipun produksi minyak global meningkat hingga hampir 5 juta barel per hari di atas kebutuhan pasar sebagaimana proyeksi IEA, dunia tetap membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menggantikan sekitar 1,15 miliar barel minyak yang hilang selama konflik berlangsung.

"Hal itu belum terlihat sekarang karena pasar masih optimistis terhadap kesepakatan yang tercapai. Namun pada akhirnya kekuatan pasar akan kembali berlaku," ujarnya.

Pasar Dinilai Masih Memiliki Bantalan Pasokan

Sementara itu, analis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, menilai kondisi cadangan minyak global memang telah menyusut. Meski demikian, ia menyebut pasar masih memiliki bantalan pasokan yang cukup untuk meredam gejolak dalam jangka pendek.

Sebagai contoh, stok bensin di Amerika Serikat saat ini hanya sekitar 5 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, persediaan solar tercatat 12,4 persen di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

"Kita memiliki bantalan yang besar, dan sekarang bantalan itu sudah banyak terpakai," kata Dwivedi.

Meski situasi di Selat Hormuz mulai membaik, para analis mengingatkan bahwa proses pemulihan rantai pasok energi global belum selesai. Karena itu, pasar minyak dunia masih berpotensi menghadapi volatilitas hingga pasokan benar-benar kembali normal.

Sebelumnya Selanjutnya