Nestapa Venezuela: Krisis Ekonomi, Negara Direcoki Trump & Gempa Bumi

PasangMata.id -


Venezuela kembali menghadapi ujian berat setelah dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah sekitar 160 kilometer di sebelah barat ibu kota Caracas. Bencana tersebut memicu kekhawatiran akan besarnya korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan.

Berdasarkan perkiraan awal Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), jumlah korban tewas akibat dua gempa besar tersebut berpotensi mencapai 10.000 hingga 100.000 orang.

"Korban jiwa yang tinggi dan kerusakan yang luas kemungkinan besar terjadi, dan bencana ini diperkirakan berdampak pada wilayah yang luas," demikian pernyataan USGS, seperti dikutip dari CNA.

Hingga kini, pemerintah Venezuela belum merilis data resmi mengenai jumlah korban meninggal maupun luka-luka secara nasional. Namun, laporan dari pejabat daerah dan sejumlah saksi mata menyebutkan adanya bangunan yang roboh, operasi penyelamatan yang terus berlangsung, serta jumlah korban yang terus bertambah.

Gempa Memperparah Kondisi Negara

Bencana ini datang di saat Venezuela masih menghadapi berbagai persoalan yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam artikel ini disebutkan bahwa pada Januari lalu Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat. Tak lama setelah itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengusulkan agar Venezuela menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.

Disebutkan pula bahwa melalui akun media sosial Truth Social, Trump mengunggah gambar Venezuela dengan bendera Amerika Serikat disertai tulisan "51st State" atau negara bagian ke-51.

Unggahan tersebut muncul setelah Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan negaranya tidak akan mempertimbangkan menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan Fox News, Trump juga disebut mengungkapkan ketertarikannya terhadap cadangan minyak Venezuela yang diperkirakan bernilai US$40 triliun.

"Venezuela menyukai Trump," kata Trump dalam wawancara tersebut.

Krisis Ekonomi Berkepanjangan

Sebelum peristiwa tersebut, Venezuela telah lebih dahulu menghadapi krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan.

Laporan Economics Observatory menyebut kebijakan ekonomi selama beberapa dekade, ditambah dampak sanksi internasional, telah menyebabkan penurunan tajam terhadap standar hidup masyarakat.

Dalam kurun 2013 hingga 2023, standar hidup warga Venezuela dilaporkan merosot hingga 74 persen, menjadikannya salah satu penurunan terbesar dalam sejarah ekonomi modern di luar kondisi perang atau runtuhnya sebuah negara.

Padahal, Venezuela merupakan negara dengan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.

Namun, hiperinflasi, tingginya angka kemiskinan, serta ketidakstabilan politik menyebabkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terus memburuk.

Akibat krisis tersebut, sekitar 8 juta warga Venezuela dilaporkan meninggalkan negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Laporan BBC bahkan menyebut sekitar 5.000 orang meninggalkan Venezuela setiap hari untuk menghindari dampak krisis ekonomi dan kemanusiaan.

Sempat Menunjukkan Tanda Pemulihan

Di tengah berbagai tantangan, Venezuela sebenarnya mulai menunjukkan sejumlah tanda pemulihan ekonomi.

Pada April lalu, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar mulai berkurang. Selain itu, produksi minyak negara tersebut dilaporkan meningkat.

Data yang disampaikan Venezuela kepada Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menunjukkan produksi minyak pada Maret mencapai 1.095.000 barel per hari, meningkat sekitar 75.000 barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi sepanjang 2024 yang berada di kisaran 893.000 barel per hari.

Prospek pemulihan sektor energi juga didukung rencana perusahaan minyak asal Spanyol, Repsol, untuk kembali menjalankan bisnisnya di Venezuela setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden sementara Delcy Rodríguez.

Selain itu, perusahaan energi asal Amerika Serikat, Chevron, juga mengumumkan rencana memperluas investasinya melalui kerja sama dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA.

Dalam kerja sama tersebut, Chevron akan meningkatkan kepemilikannya di proyek Petroindependencia di kawasan Sabuk Orinoco dari hampir 36 persen menjadi 49 persen, sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan sektor energi Venezuela.

Kini, di tengah upaya pemulihan ekonomi tersebut, gempa bumi besar yang mengguncang Venezuela dikhawatirkan semakin memperberat kondisi negara yang masih berjuang keluar dari berbagai krisis.

Sebelumnya Selanjutnya