Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran

PasangMata.id -


Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk melindungi kepentingan negara-negara Arab di kawasan Teluk dalam proses negosiasi menuju penyelesaian permanen konflik dengan Iran. Jaminan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, saat melakukan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara Teluk.

Rubio mengatakan Washington akan memastikan negara-negara mitranya di kawasan tetap dilibatkan dalam setiap tahapan pembicaraan dengan Teheran. Menurutnya, keamanan sekutu-sekutu Amerika Serikat menjadi salah satu prioritas utama dalam upaya mewujudkan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

"Kami akan sepenuhnya selaras dengan mitra kami di Teluk dan melibatkan mereka dalam setiap pembicaraan terkait keputusan yang diambil dalam negosiasi ini," ujar Rubio saat berada di Kuwait.

Dalam lawatannya, Rubio dijadwalkan menghadiri pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Bahrain setelah sebelumnya bertemu dengan para pemimpin Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Trump: Negosiasi dengan Iran Berjalan Positif

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan yang baik. Pernyataan itu disampaikan usai bertemu Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih.

"Kami berjalan dengan baik dalam negosiasi dengan Iran," kata Trump.

Di sisi lain, Trump juga mengajukan permintaan tambahan anggaran hampir US$88 miliar kepada Kongres. Sebagian besar dana tersebut ditujukan untuk Pentagon guna menutup biaya yang timbul akibat perang dengan Iran.


Pengajuan itu disampaikan sehari setelah Kongres meloloskan resolusi yang menyerukan agar Trump mengakhiri permusuhan dengan Iran, kecuali jika tindakan militer mendapat persetujuan resmi dari parlemen.

Negara Teluk Khawatir Stabilitas Kawasan

Kunjungan Rubio dilakukan di tengah kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap dampak konflik dengan Iran. Selama perang berlangsung, sejumlah negara di kawasan menjadi sasaran rudal dan drone Teheran, sementara jalur ekspor minyak dan gas sempat terganggu akibat blokade Iran di Selat Hormuz.

Meski Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka awal perundingan selama 60 hari untuk membahas penyelesaian jangka panjang, kesepakatan tersebut belum menyentuh isu program rudal Iran maupun aktivitas kelompok-kelompok proksi yang selama ini menjadi perhatian negara-negara Teluk.

Rubio menegaskan Washington tidak akan mengambil langkah yang dapat mengancam keamanan para sekutunya.

"Amerika Serikat tidak akan melakukan apa pun yang merusak keamanan sekutu kita," tegasnya.

Iran Sebut Kesepakatan sebagai Kemenangan

Di pihak lain, Iran memandang kesepakatan awal dengan Amerika Serikat sebagai keberhasilan diplomatik.

Ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut perjanjian yang dimediasi Pakistan merupakan hasil dari keteguhan negaranya menghadapi tekanan.

"Kesepakatan ini merupakan hasil dari perlawanan dan otoritas bangsa Iran yang berani. Memorandum of Understanding Islamabad menjadi deklarasi kekalahan Amerika," ujarnya.

Meski demikian, Amerika Serikat dan Pakistan menyatakan pembicaraan teknis lanjutan antara Washington dan Teheran diperkirakan akan kembali digelar dalam beberapa hari ke depan setelah putaran pertama berlangsung di Swiss.

Selat Hormuz Jadi Isu Penting

Selain membahas perdamaian, Amerika Serikat juga menegaskan komitmennya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sebagian besar ekspor minyak dan gas dunia.

Rubio mengatakan tidak ada negara yang seharusnya mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi jalur tersebut.

"Saya tidak mengetahui ada negara mana pun yang mendukung pengenaan biaya atau pungutan untuk penggunaan selat itu," katanya.

Trump turut menegaskan bahwa rencana pengenaan biaya terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz tidak dapat diterima.

Namun, Iran tetap bersikeras mempertahankan kendalinya atas selat tersebut bersama Oman. Teheran bahkan menyatakan berencana memberlakukan biaya layanan maritim bagi kapal yang melintasi kawasan itu.

Upaya Rekonsiliasi Terus Berlanjut

Di tengah dinamika tersebut, Perdana Menteri Qatar melakukan kunjungan ke Oman untuk memulai pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz bersama negara-negara Teluk, Irak, dan Iran.

Seorang diplomat menyebut negara-negara Teluk akan mendorong kebebasan navigasi tanpa pungutan biaya, sementara Iran diperkirakan mengusulkan penerapan biaya layanan lingkungan dan keamanan.

Sementara itu, pembicaraan terpisah mengenai rekonsiliasi antara Iran dan negara-negara Teluk juga disebut akan digelar di Arab Saudi, meski jadwal pelaksanaannya belum diumumkan.

Perdamaian Lebanon Dinilai Penting

Ghalibaf juga menegaskan bahwa stabilitas di Lebanon menjadi salah satu syarat penting dalam upaya mencapai kesepakatan permanen antara Iran dan Amerika Serikat.

"Bagi kami, gencatan senjata di Lebanon sama pentingnya dengan gencatan senjata di Iran," katanya.

Meski situasi di Lebanon mulai mereda, ketegangan belum sepenuhnya berakhir. Hizbullah menuduh Israel melanggar gencatan senjata setelah serangan pesawat nirawak menewaskan dua orang di Lebanon selatan. Sementara itu, militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar dua anggota Hizbullah yang disebut sebagai ancaman langsung.

Di tengah kondisi tersebut, kehidupan masyarakat perlahan mulai bangkit. Di Kota Tyre, Lebanon, seorang pemilik pangkas rambut bernama Hussein Hassan tetap membuka usahanya meski bangunannya mengalami kerusakan akibat serangan.

"Warga Tyre mencintai kehidupan dan pekerjaan. Kami menyingkirkan debu dan bangkit kembali seperti burung phoenix," ujarnya.

Sebelumnya Selanjutnya